Mengadu nasib, sepasang kata yang seringkali kita dengar dari orang orang
yang berpindah dari suatu tempat dengan harapan sebuah hal baik akan datang.
Bukan hanya dalam hal materi, fenomena yang kita sering sebut dengan migrasi
memiliki nilai ekspektasi yang lebih bagi seorang migran dibanding masyarakat
awam. Dalam setiap niat perpindahan terselip doa doa panjang terdalam. Mulai
dari pengharapan akan penghasilan yang lebih tinggi, karir yang lebih mumpuni, lingkungan
sosial yang lebih baik, hingga ketenangan batin dalam diri bisa menjadi faktor
dalam terjadinya migrasi.
Pada tahun 2015 berdasarkan data publikasi BPS hasil sensus penduduk 2010
tercatat ada sebanyak 237.637.868 migrasi seumur hidup antar provinsi dikurangi
239 juta yang berasal dari luar negeri, ini baru angka migrasi di dalam
indonesia sendiri. Sedangkan di indonesia terdapat setidaknya 718 bahasa
daerah, 1.340 suku bangsa (menurut sensus penduduk 2010) dan berbagai adat
budaya berbeda. Proses migrasi sendiri tidak serta merta dapat kita lakukan,
didalamnya banyak tantangan yang harus kita hadapi dalam upaya beradaptasi di
lingkungan baru.
Dengan melihat begitu banyaknya perbedaan di dalam Indonesia itu sendiri
kita dapat melihat seberapa besar kebhinekaan yang tertanam dalam jiwa tiap
tiap warga negara. Apakah seseorang yang berasal dari tempat yang berbeda akan
dengan mudah diterima ditempat baru atau justru mendapat perlakuan tidak nyaman
karena belum selesainya proses adaptasi. Disini diperlukan adanya sikap toleran
yang tinggi baik dari sisi migran maupun masyarakat penerima migran. Seorang
migran yang baik selayaknya menjaga sopan santun dan etika dalam bermasyarakat
dan sebagai penerima migran selayaknya menghargai dan memperhatikan sikap agar
seorang migran bisa merasa nyaman di lingkungan yang baru.
Menurut BPS, rentang usia yang paling tinggi melakukan migrasi adalah
kelompok umur 20-24 tahun yang mana mencapai 490.709 migrasi risen, kemudian
disusul kelompok umur 25-29 tahun sebagai 432.382 kasus migrasi risen. Usia
20-29 ini termasuk usia dewasa muda yangmana sedang dalam semangat yang tinggi
untuk mengembangkan kualitas diri. Mayoritas dari migrasi usia muda adalah
untuk mencari pendidikan yang lebih baik dan mendapatkan pekerjaan yang lebih
mapan demi masa depan.
Dari sisi psikologis, mungkin usia tidak dapat menggambarkan kedewasaan,
tetapi pada umumnya jiwa jiwa mudah masih memiliki ego dan idealisme yang bisa
dikatakan tinggi juga seperti semangat yang ada didalam diri. Akan menjadi
sebuah problem apabila ego ini tidak terkontrol sedangkan mereka sedang didalam
masyarakat yang tidak biasanya, atau yang bukan lingkungan mereka. Masalah tingkat
toleransi dalam diri, baik secara individu maupun kelompok dapat menimbulkan
adanya masalah eksternal yang melibatkan banyak orang. Seperti beberapa tahun
belakangan, sempat kita mendengar adanya konflik antara sekelompok migran
dengan penduduk asli daerah tersebut.
Selain masalah secara eksternal atau secara sosial, menjadi seorang migran
juga dapat menimbulkan potensi masalah internal dalam diri. Jauh dari keluarga,
sanak saudara, atau orang terdekat dapat menjadi tekanan yang menimbulkan
masalah psikologis. Kecil kemungkinan hidup mengalami hal baik saja, kadangkala
kita juga mengalami hari hari buruk, hari hari yang berat, dan kenyataan yang
tidak sesuai harapan yang membuat mental kita terusik. Sebagai migran yang masih dalam tahap
penyesuaian diri dengan lingkungan baru, kemudian mengalami tekanan dari
berbagai sisi perlu kita beri perhatian lebih.
Menurut survei yang dilakukan Vice pada tahun 2019 dari 2.010 responden berupa millenial dan gen Z, 78% menyatakan bahwa hidup pada era modernisasi seperi ini tidak semudah dulu. Sebuah studi mengatakan bahwa banyak gen Z dan generasi milenial mengalami gangguan kecemasan, kewalahan, kelelahan, insomnia dan mengasingkan diri. Masalah masalah tersebut berpotensi lebih besar muncul dalam seorang migran yang memiliki tekanan lebih baik dari jauhnya supporting system dan belum familiar dengan lingkungan.
So, being a migrant is a challenge or pressure? menurutmu ?

tulisan yang sangat menarik, good job Ale!
BalasHapusmantap btul le
BalasHapusbagus banget mba,,,
BalasHapusmantep ale ditunggu tulisannya lagiii
BalasHapus