Langsung ke konten utama

Life Goes On : rehat tidak membutuhkan alasan.


2 minggu lagi Bulan Desember akan berakhir. Ya, itu tandanya rangkaian peristiwa dan cerita di tahun ini juga akan berlalu begitu saja, sama seperti kisah-kisah yang sudah. Minggu ini adalah minggu terakhir perkuliahan, lebih tepatnya minggu ke 14. Setelah minggu ini berakhir akan ada ujian yang menanti di depan mata. Semua terasa sangat cepat, seperti baru saja kemarin aku memulai semester 4 dengan harapan lebih akan pencapaian pencapaian dunia, dan seperti baru saja aku membuat resolusi baru untuk tahun 2020. Jangankan setahun ini, bahkan aku baru saja menyadari keberadaanku di dunia sudah mencapai seperlima abad.

Falsafah lama seringkali mengibaratkan waktu memiliki 2 sisi mata pisau yang sama tajamnya. Ia bisa membawamu pada puncak kesuksesan, atau menenggelamkan dan membunuhmu secara perlahan. Waktu itu sebuah harapan, tuntutan, namun juga sebuah cobaan. Rumit memang, tapi yang kutahu pasti, kita bisa berdamai dan berkawan baik dengannya. Kembali ke semangat awal tahun ku di tahun ini, 3 bulan berjalan sewajarnya, bahkan jauh lebih baik dari yang kuharapkan. Hingga kejadian luar biasa menampar seluruh dinamisme dunia, menghentikannya seperti sebuah lampu merah di persimpangan jalan.

Sekarang aku sudah semester 5, yang bahkan akan berakhir juga secepatnya. Masa-masa krusial dalam perkuliahan yang sibuk kulalui dengan pembelajaran jarak super jauh–582 km dari kediamanku ke kampus tercinta di ibukota. Cukup banyak agenda minggu ini, jadwal-jadwal yang tertunda mau tidak mau harus dirampungkan, 10 sesi banyaknya. Bahkan membayangkan sibuknya pun sudah membuat badanku pegal, ditambah dengan rapat PKL yang tidak akan ada ujungnya.

Tetapi aku tidak mau terburu-buru. Tak mau seperti diburu waktu–meski kenyataanya memang begitu. Bukannya memang tabiat mahasiswa selalu mencari waktu dikala sedang diburu waktu ? Sadar atau tidak sadar menulis semua bualanku tadi juga bagian dari tugasku minggu ini. “Jangan dibawa beban” kata dosenku kali ini. Aku bisa saja mencicil tugas ini semenjak seminggu yang lalu, berlaku juga untuk paper paperku yang menunggu disentuh. Tetapi aku ingin mengambil nafas sejenak.

Aku bahkan memutuskan untuk menghabiskan weekend di kediaman nenekku didesa. Setelah berminggu-minggu (atau bahkan bulan) aku menundanya dengan alasan rapat mendadak yang kerap terjadi tidak bisa kulepaskan dari tanggung jawab–dan memang benar adanya selain alasan sinyal disini yang sering hilang entah kemana. Seharian aku habiskan dengan saudara-saudaraku, sekedar bercerita sampai bermain petak umpet ramai-ramai. Kuistirahatkan otak, laptop dan ponsel pintarku seharian. Seperti video yang diputar berulang-ulang secara paksa dan memperburuk performa device, begitu juga dengan otak ku yang berharga.

potret kebun yang menyegarkan mata

Setiap orang perlu rehat secara berkala, dan kita sebenarnya tidak perlu alasan untuk itu. Setelah rehat bebrapa hari, minggu ini kumulai dengan sedikit produktif. Menikmati suara kicau burung dengan menulis tugas metpen, diselingi dengan sesekali menyesap teh manis hangat buatan nenek dan ditemani lagu Life Goes On dari boygroup favoritku, nikmat bukan ? Hari ini saatnya menata ulang agenda dan semangat menjalani rutinitas. Oiya, juga sedikit mengapresiasi pencapaian yang sudah diraih hingga detik ini. Untuk siapapun yang membaca ini, meskipun tak semuanya bisa berjalan sesuai rencana, tidak apa apa. Yang penting kita sudah mencoba dan berusaha mengubah hidup yang buruk menjadi lebih baik. Jangan lupa rehat sejenak, hidup memang tentang berjuang tapi berjuang butuh tenaga, juga tubuhmu punya hak untuk dirawat dan dijaga. Oke, sekarang saatnya sarapan.



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati dan kata

Hati, tak seorangngpun mengerti apa yang ada dalam hati orang lain, karena hati tak bisa berkata, bibir yang berkata. Namun tak semua kata yang terucap sejalan dengan hati. Hati dan perasaan tak pernah menipu, perkataanmu lah yang menipu. Kau anggap seseorang dekat denganmu, hanya karena dia banyak berbagi cerita denganmu ? tak bisa. Mungkin lebih banyak lagi cerita yang tak ia ceritakan padamu. Bisa juga kau menganggap ia biasa padahal ia bercerita padamu hal-hal yang tidak ia ceritakan pada orang lain selain dirimu. Hargailah ia. Dia yang telah melimpahkan kepercayaannya padamu seorang.

KADANG ~

Kadang, ingin engkau disini duduk menemani ceritakan kisahmu sehari Kadang, ingin ku iringi kemana engkau pergi agar ku dapat lihat senyummu berseri. Kini kusadari, engkau begitu berarti isi ruang hidupku penuh arti :)