Langsung ke konten utama

(INGIN) KU TETAP DISINI


                Meski angin senja sudah berhembus cukup lama, rasanya aku tak ingin beranjak.  Lidahku tak dapat berhenti berkata-kata. Mungkin akan kuhentikan waktu jika aku bisa. Terus disini, seperti ini.

Dimulai saat pagi, lantunan indah yang mengalun diantara gelapnya pagi. Mungkin ini masih terlalu pagi untuk dibilang pagi. Huh.. rasanya berat untuk memulai hari. Tapi pagi ini kuputuskan, aku yang akan memerankan hariku ini, tak ada satupun yang akan mengambil alih itu, termasuk kantukku ini.  Biasa saja, tak ada yang berbeda, lalu aku mulai memerankan peranku hari ini.

Waktu terus berjalan, lelah rasanya menunggu dan terus menunggu, mencari cara untuk segera pergi.  Sahabatku yang satu ini sedikit merasa bersalah, membuat kepergianku sedikit terlambat. Namun, aku tak mempermasalahkannya, yang kurasakan saat itu hanya rasa “khawatir” . Entah apa yang terjadi disana dan aku harus segera memastikannya.  Bahkan setiap 30 detik aku selalu melihat jam tangan ku.

                Setelah menanti dengan.. yah.. begitulah.. Akhirnya aku bisa segera pergi. Jalanan kota terlihat ramai namun masih lancar.Beberapa kali berbalik arah karena alat penunjuk jalan itu sepertinya sedikit sesat -_-  Perbincangan antara mereka (sahabatku dan orang tua itu) terlihat sangat interaktif, bisa saja aku ikut bergabung dengan mereka, tapi kali ini aku memilih untuk diam, melihat keluar jendela dengan harapan cepat sampai tujuan.  Iya.

                Akhirnya kita sampai. Tangga yang kupijak sekarang terasa berbeda. Namun tak kutemukan mereka. Ahh -_- ternyata aku salah tempat. Melewati tangga lagi, bergegas menuju tempat diseberang sana.  Yaaaa akhirnya. Namun mimik mereka menggambarkan sesuatu yang tidak enak. Mungkin perasaan ku saja. Atau memang ekspresi mereka se datar itu ? mungkin. Haha.

                Sedikit terlambat, hmm sedikit ? sepertinya lama. Karena itu aku tak dapat melihatnya di depan sana. Dia sudah disini. Obrolan kecil pun dimulai, sambil menunggu yang lain menuju kemari. Kadang tawa tiba tiba pecah diantaranya. Apakah ini akan berlangsung dengan lama ? aku tak tau. Rasanya tak ada habisnya membicarakan semua hal. Entah ia mulai lelah atau khawatir, aku sedikit membaca dalam ekspresinya. Ahh lagi lagi aku sok tau. Mari kita lanjutkan saja pembicaraan. Sebalnya aku selalu saja menjadi bahan pem-bully-an. Huh.. untung aku sudah terbiasa.. haha. Dan tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
                Sekarang aku mulai bingung akan melanjutkan kemana. Kuputuskan untuk terus melanjutkan perjalanan. Hingga kami mulai berpisah, dengan tempat tujuan yang berbeda-beda. Kupikir mereka akan melakukan rencana mereka, ternyata.. entahlah. Mereka sedikit kebingungan. Sebenarnya aku tak mempermasalahkan mereka akan melakukannya atau tidak. Lagipula, aku bukan seorang bocah yang akan hilang ketika ditelan kerumunan orang *wkwkw* Baru saja teman temanku memutuskan untuk pulang. Tiba-tiba mereka datang. Rasanya seperti main petak umpet -_- satu orang hilang, dicari, ketemu, yang lain hilang, dicari lagi, ketemu lagi, namun lagi lagi ada yang hilang. Ternyata memang masih bocah.  Setelah semua lengkap, di absen satu persatu, tak ada yang ketinggalan, pulang adalah tujuan kami terakhir.

Kembali pulang, antara enggan dan tuntutan. Dan diperjalanan mereka sih sempat membuat gelak tawa. Meski aku tak tahu, aku mendengarkan dengan baik, dan sesekali ikut tertawa. Tiba tiba sudah sampai. Aihh.. perjalanan pulang memang selalu terasa lebih cepat, entah mengapa.

Kupustuskan untuk sedikit menikmati sore. Menatap tempat ini tanpa ekspresi. Lapangan yang gundul tanpa rerumputan, kolam kolam yang menyusut karena musim, pekerja yang masih semangat membangun fasilitas demi mendukung studi kami, dan jalan yang setiap hari kulewati. Mengingat apa yang terjadi hari ini, membuatku enggak untuk meninggalkan tempat ini. Meski dengan segala kekurangan dalam hal materi, jiwa-jiwa kami tak pernah sepi setiap hari. Mereka yang selalu ada 24 jam sehari. Mereka yang tertawa terbahak bahak bersama dan juga menangis tersedu-sedu bersama. Setidaknya jiwa kami tidak kesepian.

Mengingat “dia”  juga membuat keinginanku untuk enggan pergi semakin menancap seakan ditarik oleh gravitasi bumi. Ia seorang pendengar yang baik. Sangat baik. Meski mungkin kelihatannya tak seperti itu. Ia adalah orang yang bijak, dengan segala solusi dari sudut pandang berbeda bagiku. Dan lelucon lelucon ringan yang sering ia lontarkan, menggurat senyum dan tawa dalam hariku. Semua itu membuatku nyaman berada disekitarnya. Entah bagaimana dengannya dan apa yang ia rasakan.  Cukup – paragraf ini sepertinya harus disudahi.

Matahari senja melukis semburat di langit jingga. Sebentar sebentar, berbicara tentang matahari senja membuatku ingat dengan sebuah kalimat dari seseorang. “Kalian itu bagaikan matahari senja yang sebentar lagi terbenam, waktu kalian akan habis, dan selesailah perjuangan kalian disini” kurang lebih begitu kalimatnya.


Meninggalkan semua yang sudah kujabarkan sepanjang ini, tidak terbayangkan rasanya. Tetapi mimpi dan masa depan harus diperjuangkan, dikawal, dan diraih. Ini bukan tempat pulang yang sebenarnya. Semoga saja mimpi dan semua tadi tetap ada, meski nanti aku sudah tak disini.  Sekarang aku hanya ingin berkata.  Aku (ingin) tetap tinggal. Meski aku tau berapa ribu kali pun aku mengatakannya aku akan tetap pergi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Life Goes On : rehat tidak membutuhkan alasan.

2 minggu lagi Bulan Desember akan berakhir. Ya, itu tandanya rangkaian peristiwa dan cerita di tahun ini juga akan berlalu begitu saja, sama seperti kisah-kisah yang sudah. Minggu ini adalah minggu terakhir perkuliahan, lebih tepatnya minggu ke 14. Setelah minggu ini berakhir akan ada ujian yang menanti di depan mata. Semua terasa sangat cepat, seperti baru saja kemarin aku memulai semester 4 dengan harapan lebih akan pencapaian pencapaian dunia, dan seperti baru saja aku membuat resolusi baru untuk tahun 2020. Jangankan setahun ini, bahkan aku baru saja menyadari keberadaanku di dunia sudah mencapai seperlima abad. Falsafah lama seringkali mengibaratkan waktu memiliki 2 sisi mata pisau yang sama tajamnya. Ia bisa membawamu pada puncak kesuksesan, atau menenggelamkan dan membunuhmu secara perlahan. Waktu itu sebuah harapan, tuntutan, namun juga sebuah cobaan. Rumit memang, tapi yang kutahu pasti, kita bisa berdamai dan berkawan baik dengannya. Kembali ke semangat awal tahun ku di tah...

Hati dan kata

Hati, tak seorangngpun mengerti apa yang ada dalam hati orang lain, karena hati tak bisa berkata, bibir yang berkata. Namun tak semua kata yang terucap sejalan dengan hati. Hati dan perasaan tak pernah menipu, perkataanmu lah yang menipu. Kau anggap seseorang dekat denganmu, hanya karena dia banyak berbagi cerita denganmu ? tak bisa. Mungkin lebih banyak lagi cerita yang tak ia ceritakan padamu. Bisa juga kau menganggap ia biasa padahal ia bercerita padamu hal-hal yang tidak ia ceritakan pada orang lain selain dirimu. Hargailah ia. Dia yang telah melimpahkan kepercayaannya padamu seorang.

KADANG ~

Kadang, ingin engkau disini duduk menemani ceritakan kisahmu sehari Kadang, ingin ku iringi kemana engkau pergi agar ku dapat lihat senyummu berseri. Kini kusadari, engkau begitu berarti isi ruang hidupku penuh arti :)