Langsung ke konten utama

Semua Milikku

Apakah kebaikanku membunuh diriku sendiri secara perlahan ?
Aku selalu berusaha menghapus banyak air mata milik orang lain, mengembalikan senyum mereka, terus menyemangati mereka agar tak terjatuh, membantu mereka kembali bangkit menyusun langkah, menutup masa masa kelam, melanjutkan kisah yang kuharap tak cepat menemui akhirnya.
Bahagia melihatnya, ketika mereka kembali tertawa, mulai bangkit, kembali berkarya. Tak ada lagi air mata yang mengalir di pipinya. Atau gundah dalam pikirnya. Bahkan mereka mulai melampauiku perlahan-lahan. Sedang aku masih berdiri disini. Seutuhnya. Dengan tangan terbuka ketika mereka datang dengan duka, dengan senyum seramah mungkin kala mereka datang dengan keresahan. Kuberikan bahuku untuk bersandar, jangan kau simpan sedihmu dalam diam, bagilah denganku. Kubantu selama aku mampu. Hingga duka, amarah, dan resah mu hilang. Lalu terserah kau  kembali pulang atau tetap tinggal. Kebanyakan orang memilih pulang. Tak apa, aku tak keberatan.
Tetapi semua milikku adalah tetap milikku,
Resahku hanya milikku
Gundahku hanya milikku
Dukaku pun hanya milikku
Maaf jika aku terkesan munafik. Memang tak semua yang kalian lihat seutuhnya adalah diriku, meski kalian sudah merasa mengetahui semua tentangku. Tak ada yang pernah benar benar mengenalku. Selain tanah dan langit yang selalu menjadi teman setiaku meski mereka membisu. Langit yang selalu melihat ku termenung, hujan yang membawaku larut bersama air mata, dan malam malam panjang yang menemani semua resah dalam pikirku. Hanya mereka yang tau. Dan ketika pagi menjelang, semua berakhir, kupersiapkan diriku untuk kembali memasang senyum, kembali tertawa menyapa kalian. Bertanya kabar, apakah kalian baik-baik saja. Karena aku sangat mengenal rasanya tidak baik-baik saja..

Apakah ini semua membunuhku secara perlahan ? 





-AS-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Life Goes On : rehat tidak membutuhkan alasan.

2 minggu lagi Bulan Desember akan berakhir. Ya, itu tandanya rangkaian peristiwa dan cerita di tahun ini juga akan berlalu begitu saja, sama seperti kisah-kisah yang sudah. Minggu ini adalah minggu terakhir perkuliahan, lebih tepatnya minggu ke 14. Setelah minggu ini berakhir akan ada ujian yang menanti di depan mata. Semua terasa sangat cepat, seperti baru saja kemarin aku memulai semester 4 dengan harapan lebih akan pencapaian pencapaian dunia, dan seperti baru saja aku membuat resolusi baru untuk tahun 2020. Jangankan setahun ini, bahkan aku baru saja menyadari keberadaanku di dunia sudah mencapai seperlima abad. Falsafah lama seringkali mengibaratkan waktu memiliki 2 sisi mata pisau yang sama tajamnya. Ia bisa membawamu pada puncak kesuksesan, atau menenggelamkan dan membunuhmu secara perlahan. Waktu itu sebuah harapan, tuntutan, namun juga sebuah cobaan. Rumit memang, tapi yang kutahu pasti, kita bisa berdamai dan berkawan baik dengannya. Kembali ke semangat awal tahun ku di tah...

Hati dan kata

Hati, tak seorangngpun mengerti apa yang ada dalam hati orang lain, karena hati tak bisa berkata, bibir yang berkata. Namun tak semua kata yang terucap sejalan dengan hati. Hati dan perasaan tak pernah menipu, perkataanmu lah yang menipu. Kau anggap seseorang dekat denganmu, hanya karena dia banyak berbagi cerita denganmu ? tak bisa. Mungkin lebih banyak lagi cerita yang tak ia ceritakan padamu. Bisa juga kau menganggap ia biasa padahal ia bercerita padamu hal-hal yang tidak ia ceritakan pada orang lain selain dirimu. Hargailah ia. Dia yang telah melimpahkan kepercayaannya padamu seorang.

KADANG ~

Kadang, ingin engkau disini duduk menemani ceritakan kisahmu sehari Kadang, ingin ku iringi kemana engkau pergi agar ku dapat lihat senyummu berseri. Kini kusadari, engkau begitu berarti isi ruang hidupku penuh arti :)