Apakah
kebaikanku membunuh diriku sendiri secara perlahan ?
Aku
selalu berusaha menghapus banyak air mata milik orang lain, mengembalikan
senyum mereka, terus menyemangati mereka agar tak terjatuh, membantu mereka
kembali bangkit menyusun langkah, menutup masa masa kelam, melanjutkan kisah yang
kuharap tak cepat menemui akhirnya.
Bahagia
melihatnya, ketika mereka kembali tertawa, mulai bangkit, kembali berkarya. Tak
ada lagi air mata yang mengalir di pipinya. Atau gundah dalam pikirnya. Bahkan
mereka mulai melampauiku perlahan-lahan. Sedang aku masih berdiri disini.
Seutuhnya. Dengan tangan terbuka ketika mereka datang dengan duka, dengan
senyum seramah mungkin kala mereka datang dengan keresahan. Kuberikan bahuku
untuk bersandar, jangan kau simpan sedihmu dalam diam, bagilah denganku. Kubantu
selama aku mampu. Hingga duka, amarah, dan resah mu hilang. Lalu terserah
kau kembali pulang atau tetap tinggal.
Kebanyakan orang memilih pulang. Tak apa, aku tak keberatan.
Tetapi
semua milikku adalah tetap milikku,
Resahku
hanya milikku
Gundahku
hanya milikku
Dukaku
pun hanya milikku
Maaf
jika aku terkesan munafik. Memang tak semua yang kalian lihat seutuhnya adalah
diriku, meski kalian sudah merasa mengetahui semua tentangku. Tak ada yang
pernah benar benar mengenalku. Selain tanah dan langit yang selalu menjadi
teman setiaku meski mereka membisu. Langit yang selalu melihat ku termenung,
hujan yang membawaku larut bersama air mata, dan malam malam panjang yang
menemani semua resah dalam pikirku. Hanya mereka yang tau. Dan ketika pagi
menjelang, semua berakhir, kupersiapkan diriku untuk kembali memasang senyum,
kembali tertawa menyapa kalian. Bertanya kabar, apakah kalian baik-baik saja.
Karena aku sangat mengenal rasanya tidak baik-baik saja..
Apakah
ini semua membunuhku secara perlahan ?
-AS-
Komentar
Posting Komentar